Ngelanjor atau ngelamun ''jorok'
dalam tanda kutip, diartikan sebagai melamun, berkhayal, berimajinasi, atau
berfantasi yang menjurus pada kegiatan seksual. Lalu, apakah Anda juga suka
melakukannya?
“Nggak boleh bengong sebentar,
ujung-ujungnya pasti ngelanjor,” ceplos Reno, lajang 26 tahun. “Sejak
SMP saya sudah sering berkhayal yang 'indah-indah', bahkan dalam kereta commuter
line, sembari membunuh waktu. Dengan mata terpejam, ngayal 'seru' deh,” timpal Ivan (29), sudah
menikah, sambil terkekeh.
Reno dan Ivan sama-sama mengakui bahwa
mereka memang sering melamunkan seks, dengan berbagai kondisi pemicu. Entah
apakah untuk membunuh rasa bosan kala di ruang tunggu, di transportasi umum,
atau sebagai obat ngantuk (mengkhayal sebelum tidur).
Sangatlah
wajar jika seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, lajang atau sudah
berpasangan untuk melamunkan seks seperti yang dilakukan Reno dan Ivan,
demikian menurut
psikolog klinis dewasa, FX Albino Prasodjo dari Bethsaida Hospital,
“Pikiran-pikiran tersebut
merupakan bentuk fantasi seksual dan merupakan hal yang wajar karena seks
merupakan salah satu kebutuhan dasar yang dimiliki oleh tiap manusia, tanpa
kecuali. Tidak hanya dialami pada orang yang berstatus lajang tapi juga pada
yang sudah punya pacar atau suami/istri. Fantasi itu muncul karena adanya
keinginan, misal mau ML sama pacarnya, namun terhambat oleh norma sosial. Tapi
pada pasangan yang sudah menikah, fantasi dapat meningkatkan hubungan suami
istri,” ujar Albino.
Dalam Psikoanalisis, Sigmund Freud
mengemukakan tentang id, ego, dan superego dimana id merupakan libido murni
yang bersifat irasional, keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan serta
berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini. Lalu apakah orang yang sering melamun
berbau seks dapat dikatakan libido tinggi?
“Libido diartikan sebagai dorongan / hasrat
seksual. Ada hubungannya namun tidak serta merta jika punya dorongan
seksual tinggi maka akan berfantasi. Ada orang yang punya libido tinggi namun
tidak dikeluarkan dalam bentuk fantasi seks. Bisa jadi hal tersebut
muncul karena faktor situasional. Misal, sedang di bus, lihat perempuan dadanya
besar lalu muncul gairah seksual. Tapi tidak serta merta menjadi impulsif atau
tidak bisa mengontrol diri,” urai Albino.
Dalam kepribadian manusia, selain id, ada
ego dan superego yang dapat berperan sebagai penyeimbang. Ego mengatur agar id
dapat disalurkan dalam lingkungan sosial dan dorongan-dorongan id tidak
melanggar nilai-nilai superego. Sementara superego merupakan bagian moral yang
menilai baik – buruk dari apa yang dilakukan oleh dorongan ego yaitu id.
Artikel ini pernah dimuat di MALE Digital Magazine by Detikcom

No comments:
Post a Comment