”Maura,
ini apa?” tanya Hilda pada putri bungsunya yang berusia tiga tahun
sambil mengacung-acungkan buah pisang. ”Banana,” jawab
Maura cepat. ”In Indonesian language, Maura! Kalau Bahasa Indonesia
apa namanya?” tanya Hilda lagi. ”Banana,” sahut Maura
lagi tanpa mengubah jawabannya. Hilda heran, sudah lupakah Maura
dengan bahasa Indonesia?
Sudah
dua bulan terakhir ini Hilda menyekolahkan Maura di salah satu
sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.
Bahkan, diselipkan pula pelajaran bahasa Mandarin di antara materi
belajar formal lainnya. Harapan Hilda tak lain agar Maura dapat
mempelajari bahasa asing sejak dini, sehingga lebih fasih ber cas
cis cus dibandingkan sang bunda.
Bahasa
Ibu yang Utama
Ditegaskan
oleh Prof. DR. Ratna Sajekti Rusli, Guru Besar Pendidikan dari
Universitas Negeri Jakarta, bahwa tidak diperkenankan memberikan
pelajaran bahasa asing kepada anak balita terlebih batita.
Menurutnya,
yang utama kuasai dulu bahasa ibu. “Jika bahasa ibunya bahasa
Indonesia, ya pelajari dulu sampai mahir bahasa Indonesia. Jangan
sampai bahasa Indonesianya masih kacau sudah dijejali bahasa lain,”
tekan Prof. Ratna.
Lebih
jauh ia mengatakan caritahu dulu apa motivasi orangtua. Apakah mereka
ingin menyekolahkan anaknya ke luar negeri sehingga dari awal sudah
diberikan pembekalan bahasa asing atau karena ada alasan lain?
Misalnya, karena sedang trend atau karena gengsi. Bisa saja,
bukan?
Mahir
Dulu Berbahasa Indonesia
Bukan
tidak boleh mengajari bahasa asing pada si kecil tapi tentu saja
dengan syarat ia harus mahir dulu berkomunikasi dengan bahasa
Indonesia. Mengingat anak tinggal di Indonesia, jauh lebih baik jika
anak menguasai bahasa ibu terlebih dahulu (bahasa Indonesia atau
bahasa daerah). Dengan demikian, stimulasi anak terhadap bahasa ini
cukup banyak, misalnya dari orangtua, keluarga besar, pengasuh,
teman, dan lingkungan lain.
Selain
itu, penguasaan bahasa ibu juga dimaksudkan agar anak lebih
menghargai budaya Indonesia. Prof. Ratna mencontohkan hal ini dengan
negara Jepang. Mereka adalah bangsa yang kebanggaan kulturalnya
sangat kuat sehingga tidak mudah bagi bahasa lain untuk masuk ke
wilayah kebudayaannya. Bahkan orang di luar Jepanglah yang harus
menyesuaikan diri dan belajar bahasa mereka jika menginjakkan kaki di
negeri matahari terbit itu.
Oleh
karena itu, sesuaikan kondisi anak sebelum Anda ngotot
mengajarinya bahasa asing.
Lalu
bahasa apa yang sehari-hari digunakan di rumah? Jika anak lahir dari
perkawinan campur yang salah satu orangtuanya adalah warga negara
asing, bisa saja anak diajarkan dua bahasa karena dalam kesehariannya
anak MEMANG menggunakan KEDUA BAHASA itu dari ayah dan
ibunya.
Konsep Sekolah Dwi Bahasa
Sekolah-sekolah yang kini
banyak menawarkan konsep dua bahasa atau tiga bahasa biasanya
berdasarkan kurikulum asing. Salah satu negara yang menjadi pusat
dari sekolah-sekolah tersebut datang dari Singapura. “Di Singapura
etnisnya sangat beragam. Begitu juga dengan penggunaan bahasanya.
Mereka berbahasa Inggris, Mandarin, India. Anak-anak mereka belajar
banyak bahasa karena sehari-hari mereka memang banyak menggunakan
bahasa-bahasa tersebut. Berbeda dengan kita di Indonesia. Metoda dwi
bahasa tidak bisa dengan demikian saja diterapkan menjadi bahasa
pengantar di sekolah apalagi untuk anak usia batita,” tutur Prof.
Ratna lagi.
Kekacauan Berbahasa
Dampak dari terlalu dininya
menerapkan pembelajaran multilingual di Indonesia adalah
kegamangan atau kacaunya konsep
bahasa dari anak-anak yang mengalaminya. Contoh sederhananya terjadi
pada kasus di atas, ketika Hilda bertanya dalam bahasa Indonesia,
Maura menjawabnya dalam bahasa Inggris. Jika anak sudah mengalami
gangguan bahasa, ia akan sulit untuk memahami perintah. Atau dia
paham perintah namun sulit mengucapkan kata-kata, sulit meniru
kata-kata yang diajarkan. Artinya, terjadi kerancuan di sini.
Lakukan Praktek Bicara
Lantas bagaimana baiknya?
Latihlah anak berbahasa bukan dengan menghafal tapi melalui
pengalaman dan kegiatan sehari-hari. Ajari anak melalui praktek
bicara sehari-hari. Dapat juga dengan memperdengarkan lagu-lagu dalam
bahasa asing atau buku cerita. Walau begitu, seperti yang selalu
ditekankan oleh Prof. Ratna, sebagai orangtua Anda tetap harus
menekankan pada anak kebanggaan akan bahasa Indonesia. Camkan bahwa
bahasa asing hanya bahasa kedua.
Penulis: Rahma Anandita
Dimuat di Tabloid Mom&Kiddie Edisi 16 Tahun IV
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete