Dengan penuh semangat ku bergegas memasuki salon yang sudah berbulan-bulan ini tak pernah lagi kudatangi. Rambut udah brasa gak enak
banget, udah kepanjangan, dan perlu sentuhan tangan-tangan Mas Arief.
Walaupun aku memang jarang banget nyalon, tauk deh… masalah
salon-menyalon mah bikin males.
Tapi kemarin siang, karena nunggu waktu liputan yang masih dua
jam lagi, daripada bengong mendingan ke salon deh. Mumpung lagi di
daerah Pondok Pinang, pikirku. Lokasi yang hanya 10 menit saja naik
motor menuju salon langgananku.
“Hallooo…,” sapaku pada Mas Arief si
empunya salon. Aku mengharap jawabannya, tapi dia hanya menatapku
kosong.
Lho, koq gak nyaut ya? Biasanya kalau aku datang dia pasti langsung
menyambutku dengan gegap gempita, langsung nyerocos macem2.
“Eh…kemane aje nengggg? Sombong bener gak pernah mampir2 lagi?” begitu
biasanya dia menyambutku. Dan itu pula kalimat2 yang sudah kubayangkan
saat aku berhallo-hallo tadi. Sekian detik kutunggu, tak juga ada
jawaban.
Sambil melipat koran yang sedang dibacanya, dia melirikku dari balik
kacamata baca sambil bertanya pelan? “Mau potong?” Hah? Mau potong? Cuma
itu aja?
Aku mengangguk pelan dengan ekspresi bingung. Lho, koq gini
doang sih? Mana sambutan2an hebohnya? Ada apa gerangan? Apakah
sebelumnya aku sempat berbuat salah hingga lelaki gemulai itu marah
padaku? Sejuta tanya berkecamuk di benakku. OMG…kenapa seh niy orang….
“Yuk sini,” ajaknya sambil menggiringku ke salah satu kursi salon
yang biasa kududuki saat rambutku dieksekusi. Sambil membiarkan rambutku
mulai dibabatnya, aku mencoba menjalin kontak mata. Kutatap dia, tapi
gak berhasil juga. Dia tetap cuek, kayak orang bener2 gak kenal.
“Ini
mau dipotong berapa senti?” Loh, biasanya dia gak pernah nanya, dia
sudah tahu seperti apa gaya rambut yang biasa aku mau.
“Dirapihin aja Mas,” jawabku masih bingung.
Kres…kresss……dia mulai
membabati rambutku…Ya Tuhan, beri aku petunjuk, ada apa gerangan ini?
Wait, setelah aku perhatikan, mulai ada yang gak beres, dia memotong
rambutku tak cekatan seperti dulu, guntingnya juga beda, berkali-kali
gunting itu terlepas dari tangannya. Ekspresi mukanya juga masih datar.
Gesture tubuhnya yang gemulai sudah berkurang. Dia terlihat lemas luar
biasa, pucat, dan…wait…apa itu…
Ku lihat di balik sweater abu-abunya,
terdapat bercak-bercak merah keunguan yang menyebar di seluruh kulit
lengannya. Oh my God, Oh my God….Mas Arief beneran sakit….sakit apa dia
ya Tuhan? Sampai dia nggak inget aku, sampai dia kehilangan sebagian
hidupnya.
Ya, dia tak terlihat “hidup”. Matanya tak lagi berbinar-binar,
gayanya yang khas saat memotong rambut juga tak lagi ada. Sempet
deg-degan…apa jadinya nanti rambutku ini? Dia motong gak karuan gini.
Aku pasrah saja. Biarlah, tapi aku harus tahu apa yang sebetulnya
terjadi pada Mas Arief.
Tak berapa lama dia sudah menyelesaikan tugasnya. What? Udah kelar?
Kulihat jam di tangan, cuma sekitar 15 menit dia motong rambut gue??
Biasanya bisa sampe satu jam dia cekras cekres rambut. Itulah kenapa aku
setia potong rambut sama dia. Mas Arief itu gak pernah puas…ada aja
yang dia rasa kurang. Detail banget, kurang layer nya lah, poninya lah,
etc…
Biasanya potong dulu, trus dicuci, trus dipotong lagi, diblow, eh
dipotong lagi bwt finishing. Total bisa 1 jam lebih cuma buat potong
rambut. Tapi ini?? Kuamat-amati hasil potongannya? Gak ada yang berarti.
Apaan nih…cuma begini doang. Koq gak beda jauh, sama aja kayak gak
dipotong. Ya sudahlah, yang penting “agak” pendek. Agak yaaa…gpp lah.
“Berapa Mas?” tanyaku sambil mengeluarkan dompet. Dia nggak menyahut.
Ouw, rupanya dia lagi nyapu sisa2 potongan rambutku tadi.
“Mas,
berapa?” dia nggak nengok juga. Sampai akhirnya kucolek pundaknya,
“BERAPA MAS?” ulangku. Dia langsung nengok, dan diluar dugaan, dia
nengok sambil meringis kesakitan. Oh my God, sebegitu rapuhnya kah
tubuhnya hingga kucolek saja dia sampai kesakitan?
Sambil menyelesaikan
pembayaran, aku masih penasaran, dan berjuta pertanyaan ini harus
terjawab sebelum aku melangkah keluar dari tempat ini. Belum tentu aku
bisa mampir kesini lagi.
Tak tertahankan, aku langsung menyemburkan pertanyaan,”Mas Arief gak
inget aku? Mas Arief, ini aku Dita. Mas Arief masih simpen kartu namaku
gak? Mas Arief sakit? Mas Arief koq gak ngenalin aku sih?” berondongan
pertanyaan membuatnya bengong menatapku. Ya Tuhan…
Tiba-tiba perempuan
yang sedari tadi sibuk mencatok rambut seorang customer di sudut ruangan
menjawab,”Mas Arief udah gak inget apa-apa. Dia sakit.”
“Sakit apa
Mbak?” tanyaku.
“Sakitnya macem-macem, stroke, diabetes, macem-macem deh," sahutnya.
Ya
Tuhan…dia sakit parah ternyata.
Sambil membereskan uang di dalam
dompetnya, Mas Arief menatapku lagi. Dia berusaha mengingat2 siapa aku.
“Ini Dita Mas!!” yakinku padanya. Sambil geleng-geleng dan sedikit
terisak dia menjawab pelan, “Gak tauuu”. Dia memejamkan matanya dan
memegang kepalanya kuat2, kemudian menggeleng lagi.
“Aduh Mba, Mas Arief
betul2 udah gak inget aku,” teriakku pada perempuan tadi.
Terakhir, dia
hanya berucap “Terima kasih ya Ditaa” dengan nada suara yang sedikit
pelo’. Rasanya campur aduk begitu aku meninggalkan Arief Salon, kutengok
sekali lagi, Mas Arief sedang berdiri menyender di pintu salonnya
sambil menatap kepergianku dengan wajah bertanya-tanya.
10 February 2010
No comments:
Post a Comment